Preview book of Sebelum Filsafat
Aisyah Raudha Lubis
0802519010
Chapter 1
Apa Itu Filsafat?
Membincang Filsafat adalah membincang manusia. Manusia satu makhluk hidup, penghuni planet bumi. Manusia adalah makhluk istimewa yang memiliki akal budi. Akal budi manusia mampu mendominasi dan mendikte warna dan corak kehidupan di muka bumi. Manusia satu-satunya makhluk hidup yang menyadari keberadaan dan mempertanyakan asal-muasal kejadian dirinya dana lam di sekelilingnya. Manusia yang setiap hari berjuang menghadapi takdir semesta untuk menentukan corak hidupnya sendiri, merancang dan memperjuangkan cita-citanya sendiri.
Animal rationaleadalah binatang yang berakal-budi, binatang yang berpikir. Begitu kata pemikir besar jati diri asasi manusia apabila dibandingkan dengan semua makhluk di muka bumi lainnya. Ada banyak teori atau konsep mengenai hakikat manusia, namun predikat manusia sebagai binatang yang berakal-budi kiranya lebih obyektif dan tepat untuk menyebut esensi makhluk yang bernama manusia.
Dengan akal budi, kesadaran diri dan hasratnya untuk memahami keberadaannya di muka bumi, manusia kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang paling mendasar mengenai dirinya sendiri. Siapa sebenarnya aku? Mengapa aku ada di muka bumi ini? Keberadaan aku ini kebetulan ataukah merupakan bagian dari satu rancangan besar kehidupan, atau jangan-jangan dirancang oleh “sesuatu” di luar diriku? Apa yang harus aku lakukan dan jangan aku lakukan? Dan seterusnya sampai ribuan, bahkan mungkin jutaan, pertanyaan tentang hakikat hidup dan kehidupan manusia.
Filsafat adalah kisah perjuangan manusia memahami dunia dan eksistensi serta esensi kehidupannya. Begitu akal dan pikiran manusia berfungsi, saat itu pula aktifitas kefilsafatan dimulai. Begitu seorang anak lahir dan akalnya tumbuh sempurna, ia pun akan mulai mempertanyaka apapun di sekelilingnya. Dan saat itulah aktifitas keilsafatan dimulai.
Ahli sejarah Yunani, Herodotus (484-424 SM) dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan istilah “berfilsafat”. Adapun kata “filosof” (secara etimologis berarti pecintaan kebijaksanaan) konon berasal dari Pythagoras (582-500 SM). Dalam perkembangannya, baik kata filsafat maupun filosof banyak digunakan dalam tulisan murid-murid Socrates (470-399 SM) dan sangat mungkin Sorates sendiri adalah orang pertama yang banyak menggunakan istilah-istilah tersebut dalam kesehariannya.
Filsafat dikenal sebagai kajian terhadap problem-problem dasar dan umum seperti realitas, eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, bahasa dan lainya. Yang membedakan filsafat dengan disiplin yang lain adalah cara filsafat yang mendekati problem-problemnya melalui jalur kritis, sistematis dan berlandaskan kepada argumen-argumen rasional. Filsafat adalah cinta terhadap kebijaksanaan. Filsafat adalah renungan dan telaah terhadap pertanyaan-pertanyaan paling penting tentang segala hal dan berakhir dalam satu visi hidup menyeluruh dan utuh.
Mohammad Hatta dalam bukunya “Alam pikir Yunani” mengemukakan bahwa pengertian filsafat itu tidak usah dibicarakan karena apabila seseorang telah banyak membaca atau mempelajari filsafat orang itu dengan sendirinya akan mengerti apa yang dimaksud dengan filsafat. Menurut Hatta, lebih mudah untuk menyebut karakter berpikir filosofis daripada dibingungkan oleh definisi filsafat yang dirumuskan berbeda-beda oleh para filosif. Karakter yang dimaksud adalah “merentang pikiran sampau sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata.”
Chapter 2
Mengapa Harus Filsafat?
Filsafat sering dilihat sebagai satu dunia yang ‘mahal’ (expensive), kadang dianggap mewah (exclusive), dan kadang dianggap khusus (elite). Satu dunia yang sesekali dipuji dan diidealkan, tetapi tak jarang pula dihujat dan disesatkan. Apalagi jika dikaitkan dengan logika ekonomi yang menjadi dasar berpikir manusia masa kini, maka filsafat harus dikatakan adalah “makhluk asing” yang tidak memberikan profit apapun selain “pembingungan”.
Filsafat hakikatnya adalah sebuah tantangan, tantangan untuk tidak hidup secara mekanis, ikut-ikutan, taklid dan “mengalir” tanpa tahu kemana, untuk apa dan mengapa. Seorang empu filsafat yang bernama Socrates pernah mengatakan satu jargon yang sangat di kenal di dunia filsafat yaitu “the unexamined life is not worth living” (hidup yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak berharga). Hidup tidak boleh dibiarkan megalir, hidup harus diuji, diketahui, direncanakan dandipahami, kemudian dijalankan dalam alternative terbaiknya. “filsafat membawa kita kepada pemahamanya. Dan pemahamanya membawa kita kepada tindakan yang lebih layak”. Jadilah filosof, setidaknya filosof tentang diri kita sendiri. Kenalilah dirimu, kata Sokrates lagi. Maka sebenarnya, hadiran filsafat sebenarnya adalah untuk menantang kita, beranikan kita mempertanyakan dan menguji kemabli segala yang selama ini kita anggap “sudah semestinya begitu”?
Manusia tidak bpleh hidup hanya dengan mengandalkan rutinitas, ikut kata apa orang. Melainkan manusia harus melakukan re-evaluasi terhadap hidup. Inilah manusia akan menemukan kebermaknaan kehidupanya, bukan sekedar menjadi komponen dalam sebuah mesin besar yang tidak punya nilai tawar dan nilai pilih selain hanya ikut berjalan sesuai program tertentu yang telah dipatenkan. Bermaknanya hidup dan berharganya hidup, itulah kiranya tawaran paling menarik dari makhluk yang namanya filsafat karena kebermaknaan hidup ini sangat esensial bagi manusia.
Chapter 3
Siapa Yang Butuh Filsafat?
Kesulitan yang dihadapi banyak orang dalam hidupnya secara umum kelihatannya disebabkan mereka tidak terlalu aktif, tidak terlalu percaya diri, tidak terlalu senang, dan seringkali mereka merasa takut tanpa sebab. Mereka tidak pernah menemukan fakta bahwa segala kesulitan tersebut datang dari tiga pertanyaan yang tidak terjawab tersebut dan hanya ada satu ilmu yang menjawabnya: Filsafat.
Filsafat mengkaji karakter fundamental eksistensi, manusia, dan hubungan manusia dengan semua eksistensi yang lain. Filsafat berhubungan dengan semua aspek alam semesta, menyangkut segala eksistensi.
Cabang-cabang filsafat:
1. Metafisika
Jenis-jenis tindakan, juga ambisi, akan berbeda sesuai dengan jawaban yang ditemukan. Jawaban-jawaban tersebut merupakan ranah metafisika, satu kajian terhadap esksistensi ada adanya. atau seperti kata Aristoteles “being qua being” satu cabang filsafat yang paling dasar. Sebagai contoh filsafat tidak akan memberitahu kalian, “Apakah kalian di New York atau Zanzibar?” (meskipun filsafat mungkin akan memberikan sarana untuk menjawab pertanyaan tersebut), tetapi filsafat akan memberi tahu kepada kalian: Apakah kalian berada di satu alam yang diatur oleh hukum-hukum alam, sehingga bergerak stabil, pasti, dan absolut serta bisa diketahui? atau kalian berada di satu dunia kacau yang tidak mungkin bisa dipahami ?
2. Epistemology
Apapun kesimpulan yang dicapai, kalian akan berhadapan dengan keharusan untuk menjawab pertanyaan lain sebagai implikasinya: Bagaimana aku mengetahui hal itu? Karena manusia tidak maha tahu atau kebal dari kesalahan, kalian harus menunjukkan apa yang kalian nyatakan sebagai pengetahuan tersebut dan membuktikan validitas dari kesimpulan kalian. Sejauh mana kalian percaya diri dan sukses, akan berbeda, sesuai dengan jawaban yang kalian terima dalam ranah ini. Jawaban – jawaban ini berada dalam ranah epistemology, tepri pengetahuan, yang mengkaji perangkat pemahaman manusia.
3. Etika
Dua cabang diatas; metafisika dan epistemology adalah basis teoritis dari filsafat. Cabang etika bisa dianggap sebagai teknologinya. Etika tidak bisa diterapkan kepada segala yang ada, tetapi dapat diterapkan hanya kepada manusia. Etika berkaitan dengan segala aspek hidup manusia: karakternya, tindakannya, nilai-nilainya, serta hubungannya dengan seluruh eksistensi. Etika atau moralitas menentukan aturan nilai untuk membimbing pilihan dan tindakan manusia yaitu pilihan dan tindakan yang menentukan isi hidupnya. Jawaban-jawaban yang diberikan oleh etika menentukan bagaimana manusia memperlakukan manusia yang lain, dan hal ini menentukan keberadaan cabang filsafat yang keempat; politik.
4. Politik
Politik menentukan prinsip-prinsip satu sistem sosial yang tepat. Sebagai contoh, filsafat politik tidak akan menunjukkan berapa banyak BBM yang layak untuk diberikan kepada kalian dan pada hari apa diberikan, namun ia membahas apakah pemerintah memiliki hak untuk menentukan rasio pemberian yang tepat.
5. Estetika
Estetika adalah kajian tentang seni, yang didasarkan kepada metafisika, epistemologi, dan etika. Seni berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan penyegaran rohani manusia. Cara terbaik untuk belajar filsafat adalah dengan mendekatinya seperti pendekatan seorang detektif dalam cerita-cerita: ikutilah setiap jejak, bukti atau implikasi untuk menemukan siapakah pembunuhnya dan siapakah pahlawannya. Tidak ada satu hal yang diperoleh secara otomatis, baik itu pengetahuan, rasa percaya diri, kepekaan batim, maupun cara yang benar untuk menggunakan akal pikiran. Setiap nilai yang diinginkan atau dibutuhkan harus ditemukan, dipelajari dan diraih-bahkan termasuk cara berdiri yang benar.
Chapter 4
Filsafat: Antara Produk dan Alat
Apabila dicermati, adanya kesenjangan pemahaman antara para filosof dan kebanyakan orang berawal dari beberapa sebab, antara lain :
1. Seorang filosof tidak mau begitu saja menerima dan meyakini apa yang diterima oleh mayoritas orang
Dengan cara ini, filosof selalu bertanya dan menguji ulang berbagai pandangan mapan tentang kehidupan yang oleh banyak orang dilihat sebagai sesuatu yang pastibenar. Di sisi lain, biasanya pandangan yang diyakini oleh manyoritas orang sebagai sesuatu yang pasti benar tersebut dalam titik tertentu sering kehilangan relevansinya dengan dinamika kehidupan yang berkembang. Betapapun bagi seorang filosof sejati, kebenaran adalah segalanya; poros bagi kehidupan dan tujuan cintanya.
2. Keragaman pandangan seorang filosof yang umumnya tidak sejalan dengan keyakinan mayoritas, berawal dari konteks kehidupan sayng filosof itu sendiri (baik konteks psikologis, maupun sejarah hidupnya)
Setiap orang, baik filosof atau bukan, pada dasarnya, adalah anak zaman mereka masing-masing. Segala perangkat bertutur dan bernalar yang mereka miliki pada dasarnya sangat ditentukan oleh lingkungan dan pengalaman tempat ia hidup. Manusia, dalam dimensi ruang dan waktu kehidupannya, jelas bersifat historis. Cara seorang bertindak, bertutur, atau berkomentar pasti banyak dipengaruhi oleh latar-latar psikologis-sosial-historis kehidupannya, begitupun dengan para filosof.
3. Perspektif, fokus, cara bernalar, dan perangkat inteligensi yang dipakai ketika seseorang membahas satu masalah sangat menentukan mengapa seseorang berkesimpulan A, sedangkan yang lain B
Perspektif, fokus, cara bernalar, dan perangkat inteligensi merupakan empat hal yang berbeda yang dipakai setiap orang untuk membahas suatu permasalahan. Jelas pula perbedaan dalam pemakaian keempat aspek tersebut; akan menghasilkan perbedaan dalam hasilnya. Cara bernalar dan perangkat inteligensi yang digunakan juga tidak boleh dilupakan. Orang yang cenderung menggunakan akalnya dengan orang yang elbih percaya pada intuisi, pasti menghasilkan model pemikiran yang berbeda. Saat mungkin ketika orang menuding filsafat sebagai bidang kajian yang menyeleweng dan “sesat”, sebenarnya yang terjadi hanyalah perbedaan perspektif.
4. Para filosof biasanya memakai istilah – istilah dengan arti tersendiri yang tidak sama dengan apa yang dipahami secara umum
Suatu kemafhuman bagi semua orang bahwa dalam dunia filosof terdapat banyak sekali istilah teknis yang sukar dipahami. Masing – masing filosof memiliki pengertian tersendiri yang tidak bisa dijelaskan secara ringkas. Istilah seperti “agama”, “cinta”, “kebijaksanaan”, “kebajikan”, “sekuler”, dan sebagainya bisa saja oleh para filosof diartikan dengan sangat berbeda. Namun, yang jelas, kesalahpahaman sering terjadi yang akhirnya membawa pada suatu dampak yaitu ketidakmampuan untuk membedakan antara filsafat sebagai produk dan filsafat sebagai alat.
Hakikat filsafat sebenarnya dalah sebuah alat, cara, dan bukan tujuan. Filsafat pada dasarnya alat untuk menguji hidup, alat untuk refleksi terhadap berbagai masalah kehidupan. Filsafat adalah alat untuk mencapai kebenaran. Dengan filsafat, orang bisa sampai pada kesimpulannya sendiri dan menjadi seseorang yang sangat religius atau bahkan ateis.
Kita harus bisa membedakan anatar produk dan alat. Berbagai pandangan dan pemikiran filsafat yang selama ini kita anggap sebagai menyeleweng adalah produk. Sementara itu, perangkat berefleksi yang disarankan oleh filsafat kemudian dipakai oleh mereka, itulah alat. Dengan memakai perangkat berefleksi yang sama, kita tidak pasti akan menghasilkan produk yang sama dengan mereka. Kakutan yang seringkali melanda beberapa oraang terhadap filsafat seringkali adalah ketakutan untuk tersesat dan terjebak ke dalam lubang yang sama, seperti orang – orang yang mereka anggap “sesat”.
Sesungguhnya, setiap orang sebagaimana dibahas sebelumnya, adalah anak zamannya sendiri. Setiap orang punya asumsi-asumsi dan pandangan hidup sendiri yang berawal dari konteks tempat ia hidup. Asumsi-asumsi itulah yang kemudian akan menuntun setiap orang kepada perspektif, fokus, cara bernalar dan pilihan inteligensi yang tidak sam satu sama lain.
Comments
Post a Comment