Preview book of Sebelum Filsafat
Aisyah Raudha Lubis
0802519010
Chapter 5
Menjadi “Bijaksana” dengan Filsafat
Adanya kesan filsafat itu “ruwet” atau “tidak karuan”, hal ini biasanya berawal dari misi dan tujuan filsafat, yakni untuk menggali dan memahami sesuatu secara komprehensif dan mendalam. Di sisi lain sebagian besar mahasiswa lebih suka berpola pikir praktis dan sederhana. Tidak heran jika kemudian apa yang dilakukan oleh filsafat itu dipandang sebagai “cari-cari masalah belaka”.
Filsafat pada awalnya adalah sebentuk rasa cinta; cinta kepada kebijaksanaan. Bukan kepada rasio, bukan kepada kerumitan berpikir, atau bukan kepada segala alur logika yang jelimet. Kebijaksanaan atau biasa juga disebut wisdom memang berkonotasi sangat positif dalam keseharian kita. Walau jelas tidak banyak orang yang berusaha secara intensif melacak apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan itu. Kata tersebut dalam kesehariannya lebih sering diartikan sebagai kebaikan praktis, kemurahan hati atau tindakan yang mempertimbangkan kepentingan dan keinginan orang lain. Pemaknaan seperti itu tentu tidak salah meskipun harus diakui masih terasa reduktif.
Dalam Oxford Dictionary, kata wisdomatau kebijakan antara lain diartikan sebagai “experience and knowledge together with the power of applying them critically or practically” (pengalaman dan pengetahuan yang sekaligus diiringi kemampuan untuk menjalankannya, baik secara kritis maupun praktis). Dalam definisi tersebut menunjukkan bahwa apa yang disebut dengan kebijaksanaan itu pada dasarnya adalah sebuah tindakan yang diawali dengan usaha untuk berpikir secara jernih dan kritis, serta mempertimbangkan pengalaman yang pernah dirasakan. Dalam aktivitas berpikir tersebut juga mempertimbangkan pengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan sebelumnya hingga akhirnya memutuskan tindakan seperti apa yang harus dilakukan.
Hidup secara bijaksana sebenarnya hidup dalam kondisi posisi yang “pas”. Pas di sini dapat diarikan sebagai gaya hidup yang tidak kurang dan tidak lebih. Pas berarti bagaimana kita hidup tanpa melampui batas-batas kewajaran sekaligus bisa memaksimalkan segala potensi yang kita miliki. Gampangnya adalah bagaimana cara menjadi manusia yang sebenarnya, dalam banyak pemikiran besar dan termasuk juga dalam ajaran banyak agama, cara hidup yang pas sering disimbolkan sebagai posisi “tengah”.
Kondisi semacam ini meniscayakan kemampuan dalam dua hal:
1. Kemampuan refleksi, benalar dengan menggunakan segenap inteligensinya untuk merumuskan posisi dan peran apa yang harus ia mainkan dalam kehidupan.
2. Kemampuan memutuskan dan selanjutnya menjalankan keputusan tersebut dalam tindakan dan mempertimbangkan pula konteks tempat tindakan tersebut.
Ada satu hal lagi yang perlu dicermati dalam proses relfeksi sebelum melakukan tindakan tersebut, yaitu mempetimbangkan kosekuensinya, dampak, atau akibat yang akan diambil. Hal tersebut perlu dilakukan bahwa ketika satu tindakan sudah diambil, pertanggungjawaban harus dilakukan.
Menurut A. Charris Zubair dalam bukunya Dimensi Etik Asketik Pengetahuan Manusia, manusia itu secara normal memiliki lima alat yang menjadi sumber pengetahuan dalam hidupnya. Kelimanya adalah indra, naluri, rasio, nurani, dan intuisi.
Kelima alat ini memiliki fungsi, bentuk, dan jenis sumbangan pengetahuan yang berbeda-beda
- Indra menggarap wilayah fisik-material
- Naluri menganggap potensi kemanusiaan untuk memahami pengetahuan tentang hidup dan kehidupan
- Rasio bekerja dalam wilayah pemahaman proses, sebab musabab, dan abstraksi
- Nurani merupakan potensi manusia dalam pemahaman martabatnya sebagai makhluk spiritual serta pemahaman akan moralitas
- Intuisi adalah potensi manusia untuk memahami dimensi transenden dalam kehidupannya
Pada banyak kasus berbagai keruwetan terjadi karena banyak prang tidak mampu memilah dan memilih perangkat pengetahuan apa yang harus ia pakai. Filsafat sendiri yang pada mulanya merupakan sebentuk “cinta kebijaksanaan” pada perkembangannya hingga saat ini sering menjadi “tidak bijaksana” karena selalu dikonotasikan sebagai kemampuan berfleksi secara rasional dan meremehkan perangkat berefleksi yang lain.
Seorang bijaksana, yang berparadigma “pas” dituntut untuk tahu dan bisa menentukan perspektif mana yang harus dipakai untuk menghadapi persoalan tersebut, mengapa harus perspektif ini dan bukan perkspektif yang lain. Bijaksana dalam paradigma “pas” juga berarti tidak mengharuskan dirinya senantiasa berada dalam perspektif tersebut, dalam kondisi dan situasi yang berbeda.
Tanggapan saya dalam bab ini adalah:
Kita sebagai seorang filosof harus bisa memposisikan kita di tengah atau di tempat yang "pas". Sebagaimana seperti yang dijelaskan di paragraf terakhir, tidak semua kondisi dan situasi kita bisa memakai perspektif yang sama seperti apa yang kita pakai sebelumnya. Bab ini mengajarkan kita untuk berpikir sekaligus menggunakan kelima alat yang menjadi sumber pengetahuan kita untuk usaha berpikir secara jernih dan kritis.
Sebagai contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering kita ajukan terhadap diri kita sendiri, Apa tujuan saya di sini? pertanyaan ini menjadikan kita bijaksana untuk mencari tahu serta paham porsi dan posisi kita dalam kehidupan ini. Setelah mendapat jawaban yang tepat kita harus bertindak dan berperilaku berdasarkan jawaban yang tepat.
Chapter 6
Petak-Petak “Sawah” Filsafat
Filsafat pada awal kemunculannya dipandang sebagai “induk segala ilmu”. Posisi tersebut sebenarnya mengimplikasikan bahwa berbagai spesifikasi keilmuan yang sekarang kita kenal pada dasarnya lahir dari rahim filsafat.
Filsafat dibutuhkan saat terjadi kebuntuan-kebuntuan pada cabang-cabang keilmuan tersebut dalam rangka menjawab rumusan ilmu-ilmu yang kehilangan relevansi dengan konteks bidang yang digelutinya mengalami perubahan atau perkembangan. Filsafat sangat luas, menyentuh segenap aspek kehidupan kita.
Banyak ahli filosof pada dasarnya adalah realitas keseharian lahan kerja sendiri. Tengoklah apa yang ada di sekeliling kita, termasuk diri kita sendiri. Itulah lahan filsafat yang sebenarnya. Filsafat tidak selalu harus berhubungan dengan buku-buku tebal atau diskusi-diskusi di hotel-hotel, semua itu sekedar sarana untuk mengekspresikan pandangan kefilsafatan kita. Filosof membagi sawah filsafat yang sangat luas ke dalam empat petak besar. Petak itu mencakup adalah:
- Ontologi (ilmu tentang keberadaan atau ada)
- Epistemologi (nyawa dari filsafat membahas seluk beluk pengetahuan manusia)
- Aksiologi (nilai dalam kehidupan manusia)
- Logika (nyawa dari filsafat, tata cara bernalar secara benar)
Ciri utama kerja kefilsafatan adalah sebagaimana yang sudah diketahui banyak orang, yaitu satu refleksi rasional yang radikal-sistematis dan bertujuan mencapai kebenaran. Dengan karakter semacam ini, tidak mengherankan apabila hampir semua bidang kajian memerlukan filsafat untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan akan evaluasi atau re-evaluasi.
Tugas-tugas yang harus dilakukan seorang filosof itu tidak terlepas dari empat hal berikut:
1. Clarifying concepts(memperjelas konsep)
Filsafat menghendaki segala aspek kehidupan manusia berjalan dalam terarah, tidak asal-asalan, dan bertujuan.
2. Construction arguments(menyusun argument-argumen)
Keterampilan kedua yang harus dimiliki oleh seorang filosof adalah kemampuan menyusun argument. Diperlukan karena disamping agar mampu memahami atau menjelaskan sesuatu seara tepat dan proposional, seorang filosof juga dituntut untuk tidak memutuskan atau melakukan sesuatu tanpa sadar.
3. Analyzing(menganalisis)
Seorang filosof harus mahir membaca, memahami, dan menempatkan objek permasalahan yang sedang ia kaji dalam porsi dan proposi yang tepat. Untuk itu diperlukan kemampuan melakukan analisis.
4. Criticizing(mengkritisi)
Tugas mengkritisi hakikatnya berhubungan dengan tiga tugas sebelumnya. Kritik dilakukan ketika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang keluat dari porsi dan proporsi yang harusnya.
Tanggapan saya dalam bab ini adalah:
Dalam bab ini sangat jelas sekali bahwa filsafat adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan yang ada. Bisa dibilang semua ilmu pengetahuan yang kita ketahui di dasari oleh filsafat. Dalam bab ini juga menggambarkan tentang sawah yang kita sebut sebagai filsafat, sedangkan dalam petak-petak sawah tersebut terdapat beberapa ilmu seperti; ontologi, epistomologi, aksiologi, dan logika. Bab ini juga menekankan filsafat tidak selalu menggunakan buku tetapi dengan kita saya dan menggunakan alat yang menjadi sumber pengetahuan kita sudah cukup.
Bab ini lebih menjelaskan bagaimana kaitan ilmu filsafat dengan ilmu pengetahuan lainnya.
Chapter 7
Dari Mitos Menuju Logos
Sebelum lahirnya filsafat, kehidupan manusia dikuasai dan diatur oleh berbagai macam mitos. Mitos-mitos tersebut biasanya berupaya menjelaskan tentang asal mula dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta dan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Seiring lahirnya kesadaran dan wawasan baru manusia yang lebih rasional, penjelasan-penjelasan yang berasal dari mitos tersebut semakin lama semakin tidak memuaskan manusia.
Mitos merupakan penjelasan mengenai hubungan manusia dengan alam melalui narasi-narasi yang sifatnya nonrasional. Logos merupakan cara manusia untuk menjelaskan kehidupan melalui sebuah penelitian. Manusia menjelaskan realitas yang ada dengan meneliti gejala-gejala alam maupun peristiwa-peristiwa yang ada.
Kehadiran logos sedikit demi sedikit mengubah cara pandang orang terhadap alam semesta dan peristiwa-peristiwa. Dengan perubahan itulah revolusi pengetahuan terjadi. Perubahan dari mitos menuju logos memang tidak secepat revolusi pada umumnya, “Kemenangan akal atas mite-mite itu tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba.”
Mitos membuat orang tidak mampu melihat realitas dengan jelas. Mitos juga mempersempit cara pandang seseorang terhadap realitas. Di situlah peran penting filsafat diharapkan. Ketika pemikiran manusia semakin maju dan berkembang, selubung mitos akan terbuka menjadi sadar bahwa mitos yang ia yakni tidak masuk akal. Tidak mudah mlenyapkan segala bentuk mitos dari kehidupan masyarakat karena mungkin ada tuntutan naluriah tertentu dalam diri manusia untuk bersandar pada hal-hal mitologis saat ia “tidak berdaya.”. Oleh karena itu, berkembangnya tradisi filosofis di tengah masyarakat akan sangat membantu membangun peradaban manusia yang lebih rasional dan terarah.
Tanggapan saya dalam bab ini adalah:
Bab ini lebih menjelaskan dan memfokuskan perbedaan Mitos dan Filsafat. Mitos lebih dimengerti sebagai cerita rakyat dan menceritakan tentang tokoh dewa dan makhluk setengah dewa, sementara fillsafat lebih memikirkan segala yang terjadi dengan pikiran jernih dan rasional. Bab ini juga menyinggung sejarah filsafat terjadi karena adanya berubahnya mitos menjadi logos. Ini terjadi karena pemikiran manusia semakin berkembang dan mulai berpikir rasional lewat kerja akal budi.
Chapter 8
Sikap Mental Seorang Filosof
Dalam usaha mewujudkan cita-cita menjadi seorang filosof, memiliki banyak data, pengetahuan, dan pemahaman terhadap seluk-beluk berbagai ide dan pemikiran besar kefilsafatan itu memang penting dan jelas sangat penting. Namung yang lebih penting lagi adalah kita harus tahu bagaimana cara bersikap, berperilaku, dan menghayati hidup seorang filosof.
Filsafat sebagai pendobrak berarti filsafat menjadi alat untuk memecahkan kebuntuan dan kemandekan yang sering terjadi di dalam realitas. Aturan yang dibuat atau dirumuskan manusia sendiri pada akhirnya menjebak mereka sendiri. Ironisnya banyak di antara mereka yang membuat aturan tersebut justru tidak berani mengkaji ulang atau merevisi aturan tersebut menjadi anomaly atau keterputusan relevansi antara aturan tersebut dengan realitas.
Filsafat pada hakikatnya sekedar bermaksud untuk menguji dan mengevaluasi ulang tentang benar-salah, baik-buruk, atau pantas-tidak pantasnya sebuah pemikiran atau tradisi hidup tertentu. Di sisi lain kita akan melihat adanya perbedaan besar setelah pemikiran atau tradisi tersebut melalui pengujian.
Filsafat sebagai pembebas berarti filsafat bermaksud membebaskan manusia dari segala keterkurungan, kesia-siaan, ketidaktahuan, serta ketidakpahaman, terhadap kehidupannya. Dalam fungsi pembimbing, filsafat menyediakan perangkat dan tata aturan untuk berefleksi, berpikir, serta menilai secara proposional dan jernih.
Setidaknya dengan membimbing orang untuk memahami dan menentukan hidupnya sendiri, filafat dapat menghindarkan orang dari perilaku ikut-ikutan atau melakukan sesuatu tanpa dipahami ke mana arahnya.
Beberapa sikap mental yang merupakan persyaratan sebelum terjun ke dunia filsafat secara total:
1. Janganlah mudah percaya dan membunuh rasa ingin tahu
2. Berusahalah menampilkan alternative jawaban sebanyak mungkin dan ujilah alternatif-alternatif tersebut
3. Berusahalah bersikap objektif
4. Berpikirlah terbuka dan janganlah memutlakkan pandangan
a. Tidak ada manusia yang sempurna
b. Hidup itu kompleks
c. Hidup itu berkembang dan tidak statis
5. Bersedialah menahan diri untuk tidak memutuskan sesuatu sebelum jelas duduk persoalannya dan memiliki argumen kuat
Seorang filosof tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan atau memutuskan sesuatu sebelum ia memiliki pengetahuan yang cukuo tentang aoa yang akan ia simpulkan
6. Janganlah lupa memprediksi berbagai akibat dari hasil pemikiran atau keputusan
Tanggapan saya dalam bab ini adalah:
Dalam bab ini menjelaskan seorang filosof itu seperti apa dan memiliki mental yang bagaimana. Kita semua mungkin bisa berpikir filsafat tapi tidak dari kita semua bisa berpikir filosof. Ciri-ciri dari sikap seorang filosof pun dibahas dalam bab ini. Bab ini juga menyingung tentang pola pikir kita bagaimana kita harus berpikir menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang munjul, menemukan jawaban yang pas dan memposisikan diri kita dalam keadaan "pas" seperti yang dijelaskan di bab sebelumnya. dan yang paling penting tidak gegabah dalam mengambil keputusan atau jawaban dari hasil pemikiran, sebagai filosof kita harus sebisa mungkin berpikir luas dan tidak hanya dari satu perspektif saja. Seperti contoh pertanyaan mengenai Siapa aku? pertanyaan ini sendiri menganduk banyak perspektif. Kita mungkin bisa menjawab dengan nama saja, setelah itu akan muncul pertanyaan lainnya dan akan terus muncul sampai meluas. Ini mengapa kita harus bisa berpikir luas menggunakan perspektif yang berbeda dalam setiap pertanyaan.
Comments
Post a Comment